SUMBANG SARAN TERHADAP PLATFORM ARAH PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh:

Cecep Kusmana

Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB

Sejak 2 abad yang lalu, paradigma pembangunan hampir di seluruh negara di dunia disandarkan pada paradigma neo-ekonomi klasik (paradigma ekonomi konvensional). Paradigma ekonomi tersebut berpijak pada kekuatan modal fisik (sumberdaya alam) dan tenaga kerja yang murah untuk menghasilkan produksi yang sebanyak-banyaknya demi memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan mengabaikan moral alam dan moral manusia pelakunya. Paradigma pembangunan semacam ini ternyata telah mengakibatkan terkurasnya sumberdaya alam (baik sumberdaya alam yang dapat dipulihkan maupun sumberdaya alam yang tidak dapat dipulihkan), kerusakan lingkungan, ketergantungan yang tinggi negara berkembang terhadap negara maju, dan berkembangnya sikap konsumerisme dan materialistis serta degradasi moral/etika manusia sebagai pelaku pambangunan tersebut. Bahkan secara nyata, saat ini kita menyaksikan keruntuhan dari pelaksanaan sistem kapitalisme tersebut.

Menyadari kekeliruan dari penerapan sistem kapitalis yang dihasilkan oleh paradigma neo ekonomi klasik tersebut, maka harus dicari alternatif paradigma pembangunan yang baru yang akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan umat dan kelestarian sumberdaya alam. Alternatif paradigma tersebut adalah paradigma yang mengoptimalkan penggunaan ilmu pengetahuan untuk menggerakkan roda pembangunan yang berkelanjutan. Paradigma ini dalam pelaksanaannya memerlukan persyaratan adanya masyarakat (pelaku pembangunan/ sumberdaya manusia) berpengetahuan yang didasari oleh iman dan taqwa kepada Allah SWT yang kuat sebagai soko gurunya yang diwarnai oleh kecintaan terhadap tanah air yang proporsional.

Untuk membangun sumberdaya manusia (SDM) atau masyarakat yang berpengetahuan diperlukan adanya program pengembangan SDM yang terencana, terarah, dan terukur yang memberikan perhatian cukup besar terhadap keunggulan sumberdaya alam Indonesia yang akan dijadikan soko guru perekonomian nasional. Jenis sumberdaya alam yang dimaksud adalah flow resources atau renewable resources (sumberdaya alam yang dapat diperbaharui seperti hutan, laut, dll) dan continuous resources (sumberdaya alam yang tidak mungkin habis seperti tenaga surya, tenaga gelombang laut, air dalam siklus hidrologi alam. Jenis-jenis sumberdaya alam inilah yang harus menjadi soko guru perekonomian nasional. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan untuk pengembangan IPTEK untuk mengelola sumberdaya alam-sumberdaya alam tersebut secara tepat dan bermartabat harus menjadi prioritas pertama di negara kita.

Untuk mewujudkan masyarakat berpengetahuan tersebut di atas dapat ditempuh dengan cara membentuk satuan-satuan pendidikan mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi sesuai dengan tujuan pendidikannya yang terarah dan terstruktur, baik melalui jalur pendidikan formal, non formal, maupun informal. Satuan-satuan pendidikan ini akan menghasilkan ihsan-ihsan yang bermanfaat apabila peserta didik: (a) diajari oleh para pendidik (bukan sekedar pengajar) yang berkualitas baik sebagai motor utama penyelenggaraan pendidikan, (b) mendapatkan bahan ajar dengan substansi yang teruji dan up to date bermartabat yang diberikan secara sistematik sesuai penjenjangan kompetensi peserta didik yang akan dihasilkan, (c) mendapatkan metoda pembelajaran yang dapat mengoptimalkan potensi individual, kemandirian, dan kejamaahan peserta didik, (d) adanya sarana prasarana pendidikan yang meningkatkan gairah belajar bagi peserta didik dan mengajar bagi pendidik, (e) mekanisme proses evaluasi yang terstandar dan teruji, dan tersedianya infrastruktur untuk memfasilitasi para lulusan untuk mengabdikan dirinya bagi kemaslahatan umat dalam menggapai cita-cita menjadi ihsan yang bertaqwa/bermanfaat bagi lingkungannya. Semua upaya tersebut harus dijamin oleh negara/pemerintah sebagai pengemban amanah pemelihara umat yang akan diminta pertanggungjawabannya nanti di hadapan Allah SWT, karenanya sangatlah berat memikul amanah ini.

Kalau kita melihat sejarah kejayaan Islam pada abad pertengahan betapa ilmu pengetahuan berkembang pesat menjadi penyokong utama pembentukan suatu negara yang makmur, berkeadilan, serta bermartabat. Kalau kita mengambil intisari dari succes story dari sejarah pendidikan dari masa kejayaan Islam tersebut, salah satu hikmah yang bisa dipetik adalah bahwa penguatan iman dan ketaqwaan terhadap Allah SWT dilakukan sejak usia dini dibarengi dengan penguatan pemahaman ilmu-ilmu dasar untuk pemahaman fenomena-fenomena alam sebagai sunatullah dan secara bertahap peserta didik ditempa untuk secara optimal menumbuhkembangkan potensi individualnya dan kemampuan kemandirian serta kejamaahannya di bawah bimbingan guru yang zuhud dalam ilmunya sehingga yang bersangkutan mampu menjadi sosok yang tinggi keikhlasannya dalam berkarya, mandiri, mampu berfikir objektif yang rasional, ukhuwah islamiyahnya baik, bersahaja, dan rendah hati. Satu hal yang ingin dicapai yaitu ridlo Allah SWT. Oleh karenanya, pada saat itu setiap orang berlomba menuntut ilmu dimulai dari penguasaan ilmu yang bersifat fardhlu ain, kemudian ilmu yang bersifat fardhu kifayah  karena menuntut ilmu hukumnya wajib menurut agama yang diyakininya.

Dengan mengambil pelajaran dari kisah sukses sejarah pendidikan pada masa kejayaan Islam abad pertengahan, nampaknya penguatan rasa cinta kepada Maha Pencipta Rabbul Alamin (iman dan taqwa) beserta pemahaman terhadap ilmu-ilmu dasar untuk menguak rahasia fenomena alam semesta yang mengikuti hukum sunatullah harus diberikan sejak anak dididik pada saat jenjang pendidikan dasar terus secara bertahap sampai jenjang pendidikan tinggi.

Dengan pemahaman dan penguasaan ilmu-ilmu dasar yang baik, seseorang dapat melakukan pengembangan ilmu-ilmu terapan yang teruji, sehingga inovasi-inovasi teknologi yang kreatif dapat dihasilkan bagi pemecahan permasalahan kehidupan. Untuk menjamin ghirah (gairah) memproduksi pengetahuan-pengetahuan dan teknologi-teknologi yang bermartabat dan bermaslahat, maka penguatan keilmuan keduniaan harus didasarkan pada dasar iman dan taqwa kepada Allah SWT. Pengabaian terhadap penguatan dasar keimanan dan ketaqwaan terhadap Maha Pencipta, penyelenggaraan pendidikan hanya akan menghasilkan sosok manusia yang bangga terhadap dirinya karena usahanya yang mengharapkan pengakuan pujian dari sesamanya, sehingga sosok manusia seperti ini akan kurang bermanfaat bagi kemaslahatan umat dan isi alam semesta lainnya.

Dalam menciptakan masyarakat berpengetahuan, lembaga pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi) berperan sangat penting, karena Perguruan Tinggi mempunyai otonomi keilmuan untuk memproduksi pengetahuan-pengetahuan baru melalui kegiatan-kegiatan riset, mendidik peserta didik dengan substansi-substansi pelajaran yang up to date yang diproduksi dari hasil-hasil riset yang mutakhir dan orisinil, dan mengemban amanah mendistribusikan teknologi dan konsep gagasan yang diproduksi dari pengetahuan hasil riset dan abstraksi kapital intelektual yang ada kepada dunia kehidupan masyarakat yang nyata. Dengan demikian output pengetahuan dan teknologi dari penyelenggaraan pendidikan dapat berhasil guna bagi pembangunan negara kita tercinta Indonesia.

Tags: ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.